Senin, 07 Desember 2020

Dia

DIA

 Sejak ku temukan
Dan ku rasa
Bila ini bukan hnya sekedar
Tapi sebuah kenyataan

Aku terlihat begitu bodoh
Atas hal yg ku ketahui
Bahwa telapak
Tak ubahnya seperti lautan

Mendengarmu
Ku kira adl jalan
Tetapi meninggalkanmu
Bukan suatu niatan

Aku 
Dia
Adl pilihan
Atas derita yg tak kuketahui

Aku
Kamu
Adl kepahitan yg sesaat
Sebelum manis tlah usai

Aku
Kamu
Adl suatu cinta
Yg tak tak melihat jln

Begitu nampak
Bila aku penuh penyesalan

Hidup
Mimpi
Jalan
Dan harapan

Sejak ku dengan mereka
Ku coba lupakan
Namun hati
Masih tau kemana ia pulang

Aku
Dia
Mugkin hanya persinggahan

Aku
Kamu
Adl apa yg hati ucapkan
Sebuah tempat terahir hati terlelap 
Dan duduk di pangkuan

Aku sadar
Mugkin tak pantas
Tapi hati
Terus menolak derita kerinduan

Ia berujar
Aku bukan butuh
Aku hanya salah
Meninggalkan dia

Berfikir bahwa 
Ia tak di perbolehkan
Ia mengerti
Lalu sadar

  Bhwa seseorang 
Buat ia menderita
Yg ahirnya
Aku hanya diam 

Hati berujar lagi
Kau bodoh
Sudah nyata kau menangis
Masih saja tertawa

Jadilah apa yg aku rasakan
Ia membentak
Aku menangis
Lalu dia menjanjikan

Ia berlalu lalu menoleh
Semoga yg kau rasakan berahir
Agar tangisanmu mendapat ganjaran

Lalu mendekapku
Dan berbisik
Mimpikan lah dia
Harapkan dia
Meski kau ta tau 
Tangis apa kebahagian yg kau dapat

Lalu ku melepaskan dekapan
Dan menangis
Bahwa mimpi
Memang salah menempatkan

Kemudian ku berteriak
Hukumlah aku wahai tuhan
Atas kesalahanku atas perasaan hati yg tak kusadari
Hingga dia menangis karna kebodohanku

Tuhan menjawab dengan sebuah keajaiban
Ia hadirkan
Tawamu yg sedikit demi sedikit 
Membuatku terhanyut dalam ketenangan
Atas apa yg ku rindukan di seberang

      #rdaSayon9

Selasa, 17 November 2020

Malam


Malam

Tersudut ku dalam lamunan
Mengingat semilir derai kelopakmu
Duri yg ku injak menuntunku dalam jauh
Pergi hilang dan melupakan


Tangkai mu berujar
Kau sungguh kurang ajar
Aku tak tahu
Sungguh



Berjalan ku mulai melupakan
Bahwa kelopakmu hanya hiasan
Mahkotamu hanya impian
Daun mu hanya ungkapan
Gemulai sperti lukisan


Jatuh aku tersungkur
Dilema oleh ketiadaan
Hadir diantara senja sedihmu
Malam hingga pagi tangismu


Kini
Hanya lamunan
Senja tertawa
Cakrawalapun menangis
Menangisi ku yg bodoh ini



Kegilaan akan menyelimuti
Kehina.an akan mendekap
Seiring kau di sana
Jauh dari kumbang 
Diriku iya .. yg malang


 Malam 
Malam panjang yg kelabu






                                Rohim (cacak)

Minggu, 24 September 2017

Bayang Semu

Ketika angin itu mulai mendesir
Tak jua angkat pergi dari sisi
Menengok sajak kemarin
Semu terbayang wajahmu

Mungkinkah.. angin sadari
Hembusannya akan memudar
Diterpa kesemuan..
Bayang yg tak terlihat

Bayang semu menakutiku
Menjamah relung hati
Mengores dinding hati
Menangis di pangkuanku

Cepatlah kau angin
Mendesir semilir mengiring
Menangis untuk bayangmu itu
Untuk seorang pendekar semu

Jumat, 26 Mei 2017

SAJAK

Sajak membalutku dalam gemilang

Terpeson aku oleh mahligai

Tapak jejak ini mengisahkan

Berlambang anggun menyiratkan

Itupun misteri

Ketika zuriat meneteskan air mata

Tak tampak bara menghanguskan jiwa

Pedih perih

Bagai lembran kulit ini

Merobek tersayat duri

Lekuk kiasan wajah anggun mu

Menenggelamkan pada jurang terjalku

Mengapa.....

Mengapa kau mengait

Lembaran tapak yg usang lagi berdebu

Seperti ingin kembali bersinar

Seperti kiasan puisi puisi hari indahmu

Sirnaa

Waktu yg akan menjawab rasa percayamu

Bila zuriat pernah akan menantikan hadirmu

Hadir dalam detik terahir jejakku

Aku.....

Dia

DIA  Sejak ku temukan Dan ku rasa Bila ini bukan hnya sekedar Tapi sebuah kenyataan Aku terlihat begitu bodoh Atas hal yg ku ketahui Bahwa t...