DIA
Sejak ku temukan
Dan ku rasa
Bila ini bukan hnya sekedar
Tapi sebuah kenyataan
Aku terlihat begitu bodoh
Atas hal yg ku ketahui
Bahwa telapak
Tak ubahnya seperti lautan
Mendengarmu
Ku kira adl jalan
Tetapi meninggalkanmu
Bukan suatu niatan
Aku
Dia
Adl pilihan
Atas derita yg tak kuketahui
Aku
Kamu
Adl kepahitan yg sesaat
Sebelum manis tlah usai
Aku
Kamu
Adl suatu cinta
Yg tak tak melihat jln
Begitu nampak
Bila aku penuh penyesalan
Hidup
Mimpi
Jalan
Dan harapan
Sejak ku dengan mereka
Ku coba lupakan
Namun hati
Masih tau kemana ia pulang
Aku
Dia
Mugkin hanya persinggahan
Aku
Kamu
Adl apa yg hati ucapkan
Sebuah tempat terahir hati terlelap
Dan duduk di pangkuan
Aku sadar
Mugkin tak pantas
Tapi hati
Terus menolak derita kerinduan
Ia berujar
Aku bukan butuh
Aku hanya salah
Meninggalkan dia
Berfikir bahwa
Ia tak di perbolehkan
Ia mengerti
Lalu sadar
Bhwa seseorang
Buat ia menderita
Yg ahirnya
Aku hanya diam
Hati berujar lagi
Kau bodoh
Sudah nyata kau menangis
Masih saja tertawa
Jadilah apa yg aku rasakan
Ia membentak
Aku menangis
Lalu dia menjanjikan
Ia berlalu lalu menoleh
Semoga yg kau rasakan berahir
Agar tangisanmu mendapat ganjaran
Lalu mendekapku
Dan berbisik
Mimpikan lah dia
Harapkan dia
Meski kau ta tau
Tangis apa kebahagian yg kau dapat
Lalu ku melepaskan dekapan
Dan menangis
Bahwa mimpi
Memang salah menempatkan
Kemudian ku berteriak
Hukumlah aku wahai tuhan
Atas kesalahanku atas perasaan hati yg tak kusadari
Hingga dia menangis karna kebodohanku
Tuhan menjawab dengan sebuah keajaiban
Ia hadirkan
Tawamu yg sedikit demi sedikit
Membuatku terhanyut dalam ketenangan
Atas apa yg ku rindukan di seberang
